Bismillah...
Ada banyak hal dalam hidup yang sering (saya) keluhkan, selalu ada. Padahal mungkin Yang Di Atas sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi saya, karena Beliau lebih tahu yang terbaik bagi saya daripada saya sendiri. Termasuk dalam hal, jodoh. Ups, wait wait wait...
Kadang saya berpikir, mungkin lebih baik tidak bersekolah sekalian daripada mengenal "bersekolah" yang justru menurut saya, memperumit hidup, karena ketika kita mengenyam pendidikan, dan ditahbiskan sebagai kaum terdidik, kita memiliki beban moral untuk melakukan hal-hal yang selazimnya dilakukan oleh kaum terdidik, terkecuali jika Anda ingin dicap sebagai kaum yang "tidak terdidik". Termasuk dalam hal cinta, bagaimana selayaknya kaum terididik jatuh cinta?
Kadang, saya sangat ingin sekali memiliki senyum semanis Uma Thurman, memiliki suami setampan Richard Gere, namun memiliki kearifan lokal dan keshalihan sosial macam Sulaiman, sang nabi, yang di kemudian hari mendaratkan hati kepada Bilqis. Ya, semacam itu. Saya selalu berharap hidup saya happy ending, macam film-film romance Hollywood, meski hidup pada awalnya serumit perang saudara di Tegal Kurusetra. Well, saya selalu optimis hidup saya happy ending. Meski senyum saya tak semanis Uma Thurman, atau andaikan suami saya tak mirip Rischard Gere dan Sulaiman. Hanya saja pertanyaan saya, kembali lagi seperti di atas, bagaimana seharusnya kaum terdidik jatuh cinta?Inilah salah satu kerumitan yang (tanpa saya sadari), sudah saya buat sendiri dengan mahirnya. Coba saja saya tak kuliah, tak kenal film-film Hollywood, tak kenal Bharatayuda, mungkin saya tak berandai-andai hingga ke langit, padahal saya takkan pernah ke langit.
Mungkin saya akan jadi wanita bersahaja yang baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, dengan apa yang ada. Saya tak akan pernah mau hidup di kota besar, dengan mimpi-mimpi besar, sementara kemampuan kecil. Mungkin saya akan bahagia saja, dengan suami yang (mungkin) seorang lelaki biasa, menghidupi anak istri dengan pergi ke pabrik pagi-pagi buta dan pulang ketika malam datang. Ya, saya akan baik-baik saja.
Adakah yang salah dengan saya, atau pendidikan yang saya tempuh, atawa, sahabat-sahabat yang saya pilih? Kenapa pikiran saya jadi rumit, kenapa harapan saya membumbung hingga ke langit?
Well, tanpa niatan menyalahkan apapun atau siapapun, begitulah tulisan ini tercipta, dengan harapan agar jemuran saya lekas kering, sakit saya segera sembuh, dan ada kabar dari Kutai nanti malam. Apapun kita saat ini, terimalah, lakukan yang terbaik, meski dalam hati sebenarnya banyak yang kita sesalkan, kita keluhkan dalam hidup. Tapi itulah seninya hidup, berusaha menerima, apa-apa yang sebenarnya sangat sulit kita terima. May Allah bless us. Tabik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar