LIFE HAPPILY, EVER AFTER….
Assalamu’alaykum wr.wb,
Adalah menikah, satu kata yang dipanjatkan kepada Tuhan oleh jutaan manusia di dunia ini, menjadi salah satu prioritas utama bagi mereka yang masih sendiri, menjadi harapan, angan-angan, dan percakapan menarik di setiap diskusi para lajang. Dan adalah jodoh, satu soal di tangan Tuhan, yang hanya bisa kita duga, kita persangkakan, perkirakan.
Maka begitulah cerita ini dimulai, ketika saya, salah satu wanita pekerja di Jakarta (yang sedang giat-giatnya bekerja), menyelipkan harapan dan do’a tentang jodoh pada setiap harinya, setelah sholat wajib, sholat Dhuha, puasa senin-kamis (karena saya kebetulan pengikut aliran prihatiningsih, maklum Homo Javanensis ^_^), dan saat-saat tertentu yang saya pikir adalah saat yang tepat untuk berdo’a.
Panggil aku Gunawan. Begitulah ia mulai bertutur dalam essay yang terkirim via email sepanjang satu setengah halaman itu. Tegar sekali lelaki ini, batin saya. Kisah-kisah tersaji secara singkat dalam kalimat-kalimat pendek yang cukup teratur, meski saya kurang suka cara dia mencerikatan dirinya dengan panggilan ”aku”, bukan dengan ”saya”. Kami belum pernah bertatap muka, apalagi bertukar foto. Tak pernah. Tapi saya kemukakan kepada sahabat saya, yang juga adalah sahabat beliau, bahwa lelaki itu harus membuat sebuah essay untuk saya jika memang serius untuk menikah. Maka terkirimlah email itu, yang baru sempat saya baca pada sebuah minggu yang terik. Sebuah email yang menyentuh. (Tak perlu saya ceritakan emailnya seperti apa). Setelah membaca email itu, hati saya gamang, antara ya dan tidak. Tulisan mencerminkan orangnya bukan? Dan mulailah saya menganalisa essay itu. Pertama, memenggal kalimat pendek-pendek, berarti orangnya tak suka bertele-tele, tak suka bual-bual, dengan kata lain lelaki ini pendiam, atau mau bicara yang penting-penting saja. Kedua, bahasanya lugas, bahasa sehari-hari orang awam, tak ada istilah asing yang dipakai, saya pikir, ooo, orang ini mudah dipahami, gak suka ribet, gak suka neko-neko. Ketiga, isi cerita terlalu jujur, terlalu polos. Saya langsung tahu bahwa orang ini polos betul, gak ada jaim-jaimnya, sama sekali. Urusan menganalisa orang selesai, kembali saya berkutat dengan daily activities yang kadang menyenangkan, tapi lebih sering melatih kesabaran. Ya, semua tahu tentang Jakarta.
Begitulah kisah selanjutnya bergulir dengan cepat. Tak ada sebulan kemudian kami bertemu di Jakarta. Jauh-jauh dari Kutai, lelaki itu “terbang” ke sini, menemui saya, bukan untuk masalah remeh semacam mengkonfirmasi apakah saya cinta dia, tapi untuk tahu bahwa saya itu ada di dunia, bukan maya semata. Suatu senja di restoran Solaria, dalam hujan yang tak kunjung henti, kami bicara seolah dua mahasiswa sedang mendebatkan dunia, ditemani dua piring chicken fillet plus nasi dan dua gelas es jeruk.
Saya cecar dia dengan beragam pertanyaan, ”Anda mau nikah dengan wanita pekerja?”, ”Yakin dengan segala konsekuensinya?”, ”Saya yatim piatu lho, trus gimana? Saya banyak cakap, Anda pendiam, trus??”,”Bagaimana mengatur keuangan keluarga sepengetahuan Anda?? Anda pengin poligami ndak suatu saat??” dan bla bla…Huff, betapa kekanakannya saya (maklum fresh graduate, hawanya ngeyel melulu, piss). Ya, saya kalah kali ini. Mungkin karena selisih usia, bisa jadi karena jam terbang saya kalah tinggi, saya akui, dia jauh lebih dewasa daripada saya. Maka saya tutup pembicaraan itu dengan mengatakan, ”Ok, jadi kapan kita lamaran?” . Dia kaget.
Dan akhirnya datang pula hari lamaran itu, 4 Desember 2010, di Solo, rumah saya. Semua tamu heran karena ”calon” saya belum tahu rumah saya, maka janjianlah rombongan “calon” saya, dengan utusan dari keluarga saya di Terminal Tirtonadi Solo. Salah satu tamu yang hadir pada saat itu bertanya, ”emang masnya belum pernah ngapel??”. Jawab saya singkat, ”kami baru bertemu 3 kali, di Jakarta, ketemu pertama, kedua, di Tulungagung diperkenalkan keluarganya, ketiga, beli serah-serahan lamaran”, tamu saya kaget, “hah??”.
Selesai acara lamaran, kembalilah saya ke Jakarta. Tak ada kawan saya satupun di Jakarta bahwa saya lamaran. Hanya sahabat saya Jogja yang tahu. Setelah lama kelamaan terendus pula kabar soal lamaran itu, salah seorang sahabat memarahi saya. ”Gila lo, baru ketemu 3 kali sudah lamaran. Use your brain, Sely! Apalagi Cuma dikenalin temen, jaman sekarang bisa saja blab la bla……” . ”Saya senyum saja, ya, saya sudah istikharah, dari berbagai kandidat, yang nongol di pikiran cuma dia, baca Qur’an muter-muter, ujung-ujungnya ayat yang merujuk tentangnya, dan aku melihat sebuah foto dia pake helm project dengan kaca mata hitam mirip ayahku (almarhum), padahal mereka beda generasi, dan gak saling kenal, ya sudahlah diakuisisi saja, bismillah saja.” Temen saya diam, kaget, campur aduk, seneng campur prihatin mungkin (ni bocah polos banget dipikirnya), hehehe.
Akhirnya tiba juga injuiry time saya berstatus lajang. Beberapa hari lagi insya Allah saya menyandang status sebagai Nyonya Gunawan. Berharap saya bisa jadi istri terbaik untuknya, yang tetap periang sebagaimana mula membuat dia mencintai saya, selalu berusaha mengawali pembicaraan meski bibir saya sering sariawan, selalu tersenyum meski kadang hidup saya tak selalu bahagia, selalu mendoakannya dalam malam, siang, pagi, dan petang, selalu menganggapnya yang terbaik, meski kelak uban bermunculan dan rupa tak lagi seperti semula. Semoga. Dan untukmu Gunawan, semoga bisa menjadi ayah dan suami terbaik bagi saya, selalu setia mendengarkan cerita-cerita saya, narasi-narasi saya, analisa-analisa saya tentang dunia, meski saya tahu rutinitas itu sangat melelahkan, semoga dia selalu ingat saya dimanapun berada (meski yang pertama harus ingat Tuhan tentunya), semoga selalu ada saya di siangnya, di malamnya, di sukanya, di dukanya, semoga selalu ada saya di setiap doanya, setiap tawanya, setiap air matanya, semoga dia selalu menerima saya apa adanya, meski suatu saat saya tak lagi jelita (emang sekarang jelita, hehe), nada bicara saya tak lagi menenangkan, becandaan saya tak lagi lucu, ingatan saya meluntur untuk sekedar bercerita, lidah saya kelu untuk bicara, dan tubuh renta termakan usia. Amiin.
Begitulah kisah saya tentang seornag lelaki bernama Gunawan. Dia bukan Ibnu Sutowo, bukan Ali Sadikin, bukan Soekarno, bukan Hatta, bukan Ahmadinejad, bukan Che Guavara, bukan Muhammad bin Abdullah, bukan. Dia bukan siapa-siapa, but he is everything for me. Tabik.