Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudun gunung anjok samudro
Gandhen rendhen anjejerang rendheng
Reroncening kembang kembang temanten
Mantene wis dandan dadi dewo dewi
Dewaning asmara gya' mudhun bumi
Ela mendung bubar mawur
Mlipir - mlipir gya' sumingkir
Margya dalan kemanten dalanpun dewa - dewi
Swara trompet ting celeret
Arak - arak sigra sigrak
Datan kendhat anut runtut
Gya mudhun bumi
(Sujiwo Tejo, Anyam Anyaman Nyaman)
Selasa, 18 Januari 2011
Loving, Caring, and Waiting...
Bismillah...
Ada banyak hal dalam hidup yang sering (saya) keluhkan, selalu ada. Padahal mungkin Yang Di Atas sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi saya, karena Beliau lebih tahu yang terbaik bagi saya daripada saya sendiri. Termasuk dalam hal, jodoh. Ups, wait wait wait...
Kadang saya berpikir, mungkin lebih baik tidak bersekolah sekalian daripada mengenal "bersekolah" yang justru menurut saya, memperumit hidup, karena ketika kita mengenyam pendidikan, dan ditahbiskan sebagai kaum terdidik, kita memiliki beban moral untuk melakukan hal-hal yang selazimnya dilakukan oleh kaum terdidik, terkecuali jika Anda ingin dicap sebagai kaum yang "tidak terdidik". Termasuk dalam hal cinta, bagaimana selayaknya kaum terididik jatuh cinta?
Kadang, saya sangat ingin sekali memiliki senyum semanis Uma Thurman, memiliki suami setampan Richard Gere, namun memiliki kearifan lokal dan keshalihan sosial macam Sulaiman, sang nabi, yang di kemudian hari mendaratkan hati kepada Bilqis. Ya, semacam itu. Saya selalu berharap hidup saya happy ending, macam film-film romance Hollywood, meski hidup pada awalnya serumit perang saudara di Tegal Kurusetra. Well, saya selalu optimis hidup saya happy ending. Meski senyum saya tak semanis Uma Thurman, atau andaikan suami saya tak mirip Rischard Gere dan Sulaiman. Hanya saja pertanyaan saya, kembali lagi seperti di atas, bagaimana seharusnya kaum terdidik jatuh cinta?Inilah salah satu kerumitan yang (tanpa saya sadari), sudah saya buat sendiri dengan mahirnya. Coba saja saya tak kuliah, tak kenal film-film Hollywood, tak kenal Bharatayuda, mungkin saya tak berandai-andai hingga ke langit, padahal saya takkan pernah ke langit.
Mungkin saya akan jadi wanita bersahaja yang baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, dengan apa yang ada. Saya tak akan pernah mau hidup di kota besar, dengan mimpi-mimpi besar, sementara kemampuan kecil. Mungkin saya akan bahagia saja, dengan suami yang (mungkin) seorang lelaki biasa, menghidupi anak istri dengan pergi ke pabrik pagi-pagi buta dan pulang ketika malam datang. Ya, saya akan baik-baik saja.
Adakah yang salah dengan saya, atau pendidikan yang saya tempuh, atawa, sahabat-sahabat yang saya pilih? Kenapa pikiran saya jadi rumit, kenapa harapan saya membumbung hingga ke langit?
Well, tanpa niatan menyalahkan apapun atau siapapun, begitulah tulisan ini tercipta, dengan harapan agar jemuran saya lekas kering, sakit saya segera sembuh, dan ada kabar dari Kutai nanti malam. Apapun kita saat ini, terimalah, lakukan yang terbaik, meski dalam hati sebenarnya banyak yang kita sesalkan, kita keluhkan dalam hidup. Tapi itulah seninya hidup, berusaha menerima, apa-apa yang sebenarnya sangat sulit kita terima. May Allah bless us. Tabik.
Ada banyak hal dalam hidup yang sering (saya) keluhkan, selalu ada. Padahal mungkin Yang Di Atas sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi saya, karena Beliau lebih tahu yang terbaik bagi saya daripada saya sendiri. Termasuk dalam hal, jodoh. Ups, wait wait wait...
Kadang saya berpikir, mungkin lebih baik tidak bersekolah sekalian daripada mengenal "bersekolah" yang justru menurut saya, memperumit hidup, karena ketika kita mengenyam pendidikan, dan ditahbiskan sebagai kaum terdidik, kita memiliki beban moral untuk melakukan hal-hal yang selazimnya dilakukan oleh kaum terdidik, terkecuali jika Anda ingin dicap sebagai kaum yang "tidak terdidik". Termasuk dalam hal cinta, bagaimana selayaknya kaum terididik jatuh cinta?
Kadang, saya sangat ingin sekali memiliki senyum semanis Uma Thurman, memiliki suami setampan Richard Gere, namun memiliki kearifan lokal dan keshalihan sosial macam Sulaiman, sang nabi, yang di kemudian hari mendaratkan hati kepada Bilqis. Ya, semacam itu. Saya selalu berharap hidup saya happy ending, macam film-film romance Hollywood, meski hidup pada awalnya serumit perang saudara di Tegal Kurusetra. Well, saya selalu optimis hidup saya happy ending. Meski senyum saya tak semanis Uma Thurman, atau andaikan suami saya tak mirip Rischard Gere dan Sulaiman. Hanya saja pertanyaan saya, kembali lagi seperti di atas, bagaimana seharusnya kaum terdidik jatuh cinta?Inilah salah satu kerumitan yang (tanpa saya sadari), sudah saya buat sendiri dengan mahirnya. Coba saja saya tak kuliah, tak kenal film-film Hollywood, tak kenal Bharatayuda, mungkin saya tak berandai-andai hingga ke langit, padahal saya takkan pernah ke langit.
Mungkin saya akan jadi wanita bersahaja yang baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, dengan apa yang ada. Saya tak akan pernah mau hidup di kota besar, dengan mimpi-mimpi besar, sementara kemampuan kecil. Mungkin saya akan bahagia saja, dengan suami yang (mungkin) seorang lelaki biasa, menghidupi anak istri dengan pergi ke pabrik pagi-pagi buta dan pulang ketika malam datang. Ya, saya akan baik-baik saja.
Adakah yang salah dengan saya, atau pendidikan yang saya tempuh, atawa, sahabat-sahabat yang saya pilih? Kenapa pikiran saya jadi rumit, kenapa harapan saya membumbung hingga ke langit?
Well, tanpa niatan menyalahkan apapun atau siapapun, begitulah tulisan ini tercipta, dengan harapan agar jemuran saya lekas kering, sakit saya segera sembuh, dan ada kabar dari Kutai nanti malam. Apapun kita saat ini, terimalah, lakukan yang terbaik, meski dalam hati sebenarnya banyak yang kita sesalkan, kita keluhkan dalam hidup. Tapi itulah seninya hidup, berusaha menerima, apa-apa yang sebenarnya sangat sulit kita terima. May Allah bless us. Tabik.
Kamis, 13 Januari 2011
Batavia, Batavia....
Hari ini masuk kantor lagi setelah kemarin kena Salmonella Thyposa, dan memilih ngantor karena suntuk di kos meski di kantor hanya duduk, diam, dan tenang. Lets we say, alhamdulillah!Hanya Allahlah yang berkenan sembuhkan saya, karenaNyalah saya bisa menulis di sini, mendedahkan segenap isi hati, sekali lagi, karena-Nya saja, bukan karena obat atau dokter.
Jujur, akhir2 ini saya terlalu banyak pikiran. Entah saya yang terlalu "gerak cepat", pemikir, atau mempersulit diri sendiri, membebani diri dengan hal-hal detail, rinci. Kalau kata sahabat saya, ingin jadi "The Real Jakartan". Entahlah. Yang jelas dari situlah thypus bermula. Survey kontrakan berhari2 sepulang kantor, setelah sebelumnya fotokopi, nganter2 nota dinas, transkrip, dsb. Pulang kantor khatamkan koran, sholat, tilawah,sholat lg, "night talk" ^_^, tidur, jam 3/4 bangun, sholat, siap-siap, ke kantor lg, dan begitulah selanjutnya...
Acapkali, saya makan siang sekaligus sarapan, dinner sekalian makan siang, dsb.Baiklah, saya insyaf, saya taubat. Saya jd ingat Dirut PLN Dahlan Iskan yang "ganti hati", saya jd ingat...MATI. Andaipun ajal menjemput, tak masalah bagi saya, karena toh orang tua saya telah lebih dulu ke "alam sana". Tapi bukan itu soalnya. Saya ingin punya umur barokah. Lebih tepatnya, panjang dan barokah. Saya ingin punya, suami yg humoris dan sabar, anak-anak yang banyak sekaligus shalih-shalihat, hehe.
Jadi begini teman-teman, to the point ajah, ada yang ingin saya sampaikan, betapa dalampun kita pernah jatuh, betapa beratpun ujian yang pernah kita tempuh, jangan lupa tuk selalu hadapkan muka ke depan, karena di sana ada masih ada harapan, masih ada jalan.Chayo!!!!!!!!
Jujur, akhir2 ini saya terlalu banyak pikiran. Entah saya yang terlalu "gerak cepat", pemikir, atau mempersulit diri sendiri, membebani diri dengan hal-hal detail, rinci. Kalau kata sahabat saya, ingin jadi "The Real Jakartan". Entahlah. Yang jelas dari situlah thypus bermula. Survey kontrakan berhari2 sepulang kantor, setelah sebelumnya fotokopi, nganter2 nota dinas, transkrip, dsb. Pulang kantor khatamkan koran, sholat, tilawah,sholat lg, "night talk" ^_^, tidur, jam 3/4 bangun, sholat, siap-siap, ke kantor lg, dan begitulah selanjutnya...
Acapkali, saya makan siang sekaligus sarapan, dinner sekalian makan siang, dsb.Baiklah, saya insyaf, saya taubat. Saya jd ingat Dirut PLN Dahlan Iskan yang "ganti hati", saya jd ingat...MATI. Andaipun ajal menjemput, tak masalah bagi saya, karena toh orang tua saya telah lebih dulu ke "alam sana". Tapi bukan itu soalnya. Saya ingin punya umur barokah. Lebih tepatnya, panjang dan barokah. Saya ingin punya, suami yg humoris dan sabar, anak-anak yang banyak sekaligus shalih-shalihat, hehe.
Jadi begini teman-teman, to the point ajah, ada yang ingin saya sampaikan, betapa dalampun kita pernah jatuh, betapa beratpun ujian yang pernah kita tempuh, jangan lupa tuk selalu hadapkan muka ke depan, karena di sana ada masih ada harapan, masih ada jalan.Chayo!!!!!!!!
In The Name of Allah
Bismillah...
Blog ini dibuat untuk menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, yang lebih nyaman untuk diungkapkan lewat tulisan daripada ucapan verbal, tentang apapun itu, entah sejarah, sastra, asmara, tawa, canda, airmata....
Dan tentang "hidup" utamanya, karena dari dia semua ini bermula. Oleh karena itu langsung saja kami ucapkan selamat membaca. Tabik.
Blog ini dibuat untuk menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, yang lebih nyaman untuk diungkapkan lewat tulisan daripada ucapan verbal, tentang apapun itu, entah sejarah, sastra, asmara, tawa, canda, airmata....
Dan tentang "hidup" utamanya, karena dari dia semua ini bermula. Oleh karena itu langsung saja kami ucapkan selamat membaca. Tabik.
Langganan:
Komentar (Atom)