Sabtu, 16 Juli 2011
Minggu, 13 Februari 2011
SURAT TERBUKA BUAT ZAHWA DAN ALIYAH MASSAID (dan siapa saja yang tengah dilanda kehilangan manusia tersayang)
Dear Kids,
Apa kabarmu hari ini nak? masihkah matamu sembab? Well, kita tak pernah kenal sebelumnya, atau bertemu secara tak sengaja, tapi aku pernah merasakan apa yang kalian rasakan, perasaan kehilangan sosok ayah, dalam arti harfiah, karena beliau takkan kita jumpai lagi di belahan bumi manapun.
Salam hangatku untuk kalian, jika saat ini kalian masih sering menangis, itu wajar. Karena kematian tak hanya memisahkan manusia dalam waktu seminggu atau dua minggu, sebulan atau dua bulan, tapi selamanya, hingga kita kelak dipertemukan olehNya, dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai "di sana".
Baiklah kids, ada banyak hal yang ingin kuutarakan, bukan karena ayahmu terkenal, atau karena apapun, tapi lebih karena ingin berbagi saja, berbagi perasaan yang sama pernah kurasakan, kehilangan manusia tersayang, di saat yang kita anggap tidak tepat, terlalu dini, terlalu tiba-tiba, terlalu mendadak.
Tak apa jika air matamu belum kering, wajar, menangislah jika itu membuatmu tegar, tapi ingat kids, kematian tak hanya berhenti pada tangis dan ratap, ada kehidupan yang menunggu kita untuk kita lalui, ada hari-hari yang menanti kejutan-kejutan dari kita, ada orang lain di sekeliling kita yang menanti kita bangkit dan bersinar lagi.
Sangat sukar menjalani hidup di muka bumi ini tanpa ayah, tanpa lelaki yang rela melakukan apapun dan mengorbankan apapun demi secercah senyum kita, sangat sukar, aku tahu pasti itu, nak. Tapi tenang, akan akan ada ''äyah-ayah'' yang akan kau temui sepanjang hidupmu. Mereka yang bukan ayah biologis kita, tapi berbaik hati membantu kita, seolah ayah kita dulu. Percaya itu.
Oh ya nak, jangan lupa jadilah anak-anak shalihat, doakan ayahmu selalu. Kenanglah kebaikannya, tetap bersahabatlah dengan sahabat-sahabat beliau. Well, kita tak akan pernah temui lelaki yang sama persis seperti ayah kita, tak akan, sadari itu, jangan pernah berharap beliau kembali, tapi bolehlah sekali-kali kau berharap akan berjumpa dengannya dalam mimpi. Nak, lakukan hal terbaik semampumu, sekuat tenagamu, ada atau tak ada ayahmu.Jadilah yang terbaik dimanapun kalian berada, entah jadi wisudawan terbaik di kampusmu, jadi artis cantik yang minim gosip, pengacara yang tak mempan suap, atau apapun itu jalan yang kau pilih nak, jadilah yang terbaik. Bersedilah secukupnya saja, keringkan air mata meski sebenarnya masih mampu menangis. Tenang nak, tenang. Semua ini cara Tuhan agar kita menjadi wanita tegar, dan semua hikmah baru akan terpetik ketika kita menjadi wanita dewasa. Bagaimana kita menilai lelaki yang mendekati kita, mencoba mencuri hati kita, dengan parameter seperti ayah kita. Beruntung jika kau kelak menikah dengan lelaki berkarakter seperti ayahmu, tapi jika tidak, tetaplah bangga nak, karena paling tidak pernah memiliki ayah, seperti ayah kita. Kuat ya, kita pasti bisa, percaya dech! Wanita-wanita tegar hanya tercipta dari sebuah kehidupan yang banyak benturan dan ujian, bukan dari hidup yang penuh dengan kemanjaan. Love u kids..
Regard,
SPS
Apa kabarmu hari ini nak? masihkah matamu sembab? Well, kita tak pernah kenal sebelumnya, atau bertemu secara tak sengaja, tapi aku pernah merasakan apa yang kalian rasakan, perasaan kehilangan sosok ayah, dalam arti harfiah, karena beliau takkan kita jumpai lagi di belahan bumi manapun.
Salam hangatku untuk kalian, jika saat ini kalian masih sering menangis, itu wajar. Karena kematian tak hanya memisahkan manusia dalam waktu seminggu atau dua minggu, sebulan atau dua bulan, tapi selamanya, hingga kita kelak dipertemukan olehNya, dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai "di sana".
Baiklah kids, ada banyak hal yang ingin kuutarakan, bukan karena ayahmu terkenal, atau karena apapun, tapi lebih karena ingin berbagi saja, berbagi perasaan yang sama pernah kurasakan, kehilangan manusia tersayang, di saat yang kita anggap tidak tepat, terlalu dini, terlalu tiba-tiba, terlalu mendadak.
Tak apa jika air matamu belum kering, wajar, menangislah jika itu membuatmu tegar, tapi ingat kids, kematian tak hanya berhenti pada tangis dan ratap, ada kehidupan yang menunggu kita untuk kita lalui, ada hari-hari yang menanti kejutan-kejutan dari kita, ada orang lain di sekeliling kita yang menanti kita bangkit dan bersinar lagi.
Sangat sukar menjalani hidup di muka bumi ini tanpa ayah, tanpa lelaki yang rela melakukan apapun dan mengorbankan apapun demi secercah senyum kita, sangat sukar, aku tahu pasti itu, nak. Tapi tenang, akan akan ada ''äyah-ayah'' yang akan kau temui sepanjang hidupmu. Mereka yang bukan ayah biologis kita, tapi berbaik hati membantu kita, seolah ayah kita dulu. Percaya itu.
Oh ya nak, jangan lupa jadilah anak-anak shalihat, doakan ayahmu selalu. Kenanglah kebaikannya, tetap bersahabatlah dengan sahabat-sahabat beliau. Well, kita tak akan pernah temui lelaki yang sama persis seperti ayah kita, tak akan, sadari itu, jangan pernah berharap beliau kembali, tapi bolehlah sekali-kali kau berharap akan berjumpa dengannya dalam mimpi. Nak, lakukan hal terbaik semampumu, sekuat tenagamu, ada atau tak ada ayahmu.Jadilah yang terbaik dimanapun kalian berada, entah jadi wisudawan terbaik di kampusmu, jadi artis cantik yang minim gosip, pengacara yang tak mempan suap, atau apapun itu jalan yang kau pilih nak, jadilah yang terbaik. Bersedilah secukupnya saja, keringkan air mata meski sebenarnya masih mampu menangis. Tenang nak, tenang. Semua ini cara Tuhan agar kita menjadi wanita tegar, dan semua hikmah baru akan terpetik ketika kita menjadi wanita dewasa. Bagaimana kita menilai lelaki yang mendekati kita, mencoba mencuri hati kita, dengan parameter seperti ayah kita. Beruntung jika kau kelak menikah dengan lelaki berkarakter seperti ayahmu, tapi jika tidak, tetaplah bangga nak, karena paling tidak pernah memiliki ayah, seperti ayah kita. Kuat ya, kita pasti bisa, percaya dech! Wanita-wanita tegar hanya tercipta dari sebuah kehidupan yang banyak benturan dan ujian, bukan dari hidup yang penuh dengan kemanjaan. Love u kids..
Regard,
SPS
Selasa, 18 Januari 2011
Nice song (mrinding,mengharukan)
Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudun gunung anjok samudro
Gandhen rendhen anjejerang rendheng
Reroncening kembang kembang temanten
Mantene wis dandan dadi dewo dewi
Dewaning asmara gya' mudhun bumi
Ela mendung bubar mawur
Mlipir - mlipir gya' sumingkir
Margya dalan kemanten dalanpun dewa - dewi
Swara trompet ting celeret
Arak - arak sigra sigrak
Datan kendhat anut runtut
Gya mudhun bumi
(Sujiwo Tejo, Anyam Anyaman Nyaman)
Munggah mudun gunung anjok samudro
Gandhen rendhen anjejerang rendheng
Reroncening kembang kembang temanten
Mantene wis dandan dadi dewo dewi
Dewaning asmara gya' mudhun bumi
Ela mendung bubar mawur
Mlipir - mlipir gya' sumingkir
Margya dalan kemanten dalanpun dewa - dewi
Swara trompet ting celeret
Arak - arak sigra sigrak
Datan kendhat anut runtut
Gya mudhun bumi
(Sujiwo Tejo, Anyam Anyaman Nyaman)
Loving, Caring, and Waiting...
Bismillah...
Ada banyak hal dalam hidup yang sering (saya) keluhkan, selalu ada. Padahal mungkin Yang Di Atas sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi saya, karena Beliau lebih tahu yang terbaik bagi saya daripada saya sendiri. Termasuk dalam hal, jodoh. Ups, wait wait wait...
Kadang saya berpikir, mungkin lebih baik tidak bersekolah sekalian daripada mengenal "bersekolah" yang justru menurut saya, memperumit hidup, karena ketika kita mengenyam pendidikan, dan ditahbiskan sebagai kaum terdidik, kita memiliki beban moral untuk melakukan hal-hal yang selazimnya dilakukan oleh kaum terdidik, terkecuali jika Anda ingin dicap sebagai kaum yang "tidak terdidik". Termasuk dalam hal cinta, bagaimana selayaknya kaum terididik jatuh cinta?
Kadang, saya sangat ingin sekali memiliki senyum semanis Uma Thurman, memiliki suami setampan Richard Gere, namun memiliki kearifan lokal dan keshalihan sosial macam Sulaiman, sang nabi, yang di kemudian hari mendaratkan hati kepada Bilqis. Ya, semacam itu. Saya selalu berharap hidup saya happy ending, macam film-film romance Hollywood, meski hidup pada awalnya serumit perang saudara di Tegal Kurusetra. Well, saya selalu optimis hidup saya happy ending. Meski senyum saya tak semanis Uma Thurman, atau andaikan suami saya tak mirip Rischard Gere dan Sulaiman. Hanya saja pertanyaan saya, kembali lagi seperti di atas, bagaimana seharusnya kaum terdidik jatuh cinta?Inilah salah satu kerumitan yang (tanpa saya sadari), sudah saya buat sendiri dengan mahirnya. Coba saja saya tak kuliah, tak kenal film-film Hollywood, tak kenal Bharatayuda, mungkin saya tak berandai-andai hingga ke langit, padahal saya takkan pernah ke langit.
Mungkin saya akan jadi wanita bersahaja yang baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, dengan apa yang ada. Saya tak akan pernah mau hidup di kota besar, dengan mimpi-mimpi besar, sementara kemampuan kecil. Mungkin saya akan bahagia saja, dengan suami yang (mungkin) seorang lelaki biasa, menghidupi anak istri dengan pergi ke pabrik pagi-pagi buta dan pulang ketika malam datang. Ya, saya akan baik-baik saja.
Adakah yang salah dengan saya, atau pendidikan yang saya tempuh, atawa, sahabat-sahabat yang saya pilih? Kenapa pikiran saya jadi rumit, kenapa harapan saya membumbung hingga ke langit?
Well, tanpa niatan menyalahkan apapun atau siapapun, begitulah tulisan ini tercipta, dengan harapan agar jemuran saya lekas kering, sakit saya segera sembuh, dan ada kabar dari Kutai nanti malam. Apapun kita saat ini, terimalah, lakukan yang terbaik, meski dalam hati sebenarnya banyak yang kita sesalkan, kita keluhkan dalam hidup. Tapi itulah seninya hidup, berusaha menerima, apa-apa yang sebenarnya sangat sulit kita terima. May Allah bless us. Tabik.
Ada banyak hal dalam hidup yang sering (saya) keluhkan, selalu ada. Padahal mungkin Yang Di Atas sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi saya, karena Beliau lebih tahu yang terbaik bagi saya daripada saya sendiri. Termasuk dalam hal, jodoh. Ups, wait wait wait...
Kadang saya berpikir, mungkin lebih baik tidak bersekolah sekalian daripada mengenal "bersekolah" yang justru menurut saya, memperumit hidup, karena ketika kita mengenyam pendidikan, dan ditahbiskan sebagai kaum terdidik, kita memiliki beban moral untuk melakukan hal-hal yang selazimnya dilakukan oleh kaum terdidik, terkecuali jika Anda ingin dicap sebagai kaum yang "tidak terdidik". Termasuk dalam hal cinta, bagaimana selayaknya kaum terididik jatuh cinta?
Kadang, saya sangat ingin sekali memiliki senyum semanis Uma Thurman, memiliki suami setampan Richard Gere, namun memiliki kearifan lokal dan keshalihan sosial macam Sulaiman, sang nabi, yang di kemudian hari mendaratkan hati kepada Bilqis. Ya, semacam itu. Saya selalu berharap hidup saya happy ending, macam film-film romance Hollywood, meski hidup pada awalnya serumit perang saudara di Tegal Kurusetra. Well, saya selalu optimis hidup saya happy ending. Meski senyum saya tak semanis Uma Thurman, atau andaikan suami saya tak mirip Rischard Gere dan Sulaiman. Hanya saja pertanyaan saya, kembali lagi seperti di atas, bagaimana seharusnya kaum terdidik jatuh cinta?Inilah salah satu kerumitan yang (tanpa saya sadari), sudah saya buat sendiri dengan mahirnya. Coba saja saya tak kuliah, tak kenal film-film Hollywood, tak kenal Bharatayuda, mungkin saya tak berandai-andai hingga ke langit, padahal saya takkan pernah ke langit.
Mungkin saya akan jadi wanita bersahaja yang baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, dengan apa yang ada. Saya tak akan pernah mau hidup di kota besar, dengan mimpi-mimpi besar, sementara kemampuan kecil. Mungkin saya akan bahagia saja, dengan suami yang (mungkin) seorang lelaki biasa, menghidupi anak istri dengan pergi ke pabrik pagi-pagi buta dan pulang ketika malam datang. Ya, saya akan baik-baik saja.
Adakah yang salah dengan saya, atau pendidikan yang saya tempuh, atawa, sahabat-sahabat yang saya pilih? Kenapa pikiran saya jadi rumit, kenapa harapan saya membumbung hingga ke langit?
Well, tanpa niatan menyalahkan apapun atau siapapun, begitulah tulisan ini tercipta, dengan harapan agar jemuran saya lekas kering, sakit saya segera sembuh, dan ada kabar dari Kutai nanti malam. Apapun kita saat ini, terimalah, lakukan yang terbaik, meski dalam hati sebenarnya banyak yang kita sesalkan, kita keluhkan dalam hidup. Tapi itulah seninya hidup, berusaha menerima, apa-apa yang sebenarnya sangat sulit kita terima. May Allah bless us. Tabik.
Kamis, 13 Januari 2011
Batavia, Batavia....
Hari ini masuk kantor lagi setelah kemarin kena Salmonella Thyposa, dan memilih ngantor karena suntuk di kos meski di kantor hanya duduk, diam, dan tenang. Lets we say, alhamdulillah!Hanya Allahlah yang berkenan sembuhkan saya, karenaNyalah saya bisa menulis di sini, mendedahkan segenap isi hati, sekali lagi, karena-Nya saja, bukan karena obat atau dokter.
Jujur, akhir2 ini saya terlalu banyak pikiran. Entah saya yang terlalu "gerak cepat", pemikir, atau mempersulit diri sendiri, membebani diri dengan hal-hal detail, rinci. Kalau kata sahabat saya, ingin jadi "The Real Jakartan". Entahlah. Yang jelas dari situlah thypus bermula. Survey kontrakan berhari2 sepulang kantor, setelah sebelumnya fotokopi, nganter2 nota dinas, transkrip, dsb. Pulang kantor khatamkan koran, sholat, tilawah,sholat lg, "night talk" ^_^, tidur, jam 3/4 bangun, sholat, siap-siap, ke kantor lg, dan begitulah selanjutnya...
Acapkali, saya makan siang sekaligus sarapan, dinner sekalian makan siang, dsb.Baiklah, saya insyaf, saya taubat. Saya jd ingat Dirut PLN Dahlan Iskan yang "ganti hati", saya jd ingat...MATI. Andaipun ajal menjemput, tak masalah bagi saya, karena toh orang tua saya telah lebih dulu ke "alam sana". Tapi bukan itu soalnya. Saya ingin punya umur barokah. Lebih tepatnya, panjang dan barokah. Saya ingin punya, suami yg humoris dan sabar, anak-anak yang banyak sekaligus shalih-shalihat, hehe.
Jadi begini teman-teman, to the point ajah, ada yang ingin saya sampaikan, betapa dalampun kita pernah jatuh, betapa beratpun ujian yang pernah kita tempuh, jangan lupa tuk selalu hadapkan muka ke depan, karena di sana ada masih ada harapan, masih ada jalan.Chayo!!!!!!!!
Jujur, akhir2 ini saya terlalu banyak pikiran. Entah saya yang terlalu "gerak cepat", pemikir, atau mempersulit diri sendiri, membebani diri dengan hal-hal detail, rinci. Kalau kata sahabat saya, ingin jadi "The Real Jakartan". Entahlah. Yang jelas dari situlah thypus bermula. Survey kontrakan berhari2 sepulang kantor, setelah sebelumnya fotokopi, nganter2 nota dinas, transkrip, dsb. Pulang kantor khatamkan koran, sholat, tilawah,sholat lg, "night talk" ^_^, tidur, jam 3/4 bangun, sholat, siap-siap, ke kantor lg, dan begitulah selanjutnya...
Acapkali, saya makan siang sekaligus sarapan, dinner sekalian makan siang, dsb.Baiklah, saya insyaf, saya taubat. Saya jd ingat Dirut PLN Dahlan Iskan yang "ganti hati", saya jd ingat...MATI. Andaipun ajal menjemput, tak masalah bagi saya, karena toh orang tua saya telah lebih dulu ke "alam sana". Tapi bukan itu soalnya. Saya ingin punya umur barokah. Lebih tepatnya, panjang dan barokah. Saya ingin punya, suami yg humoris dan sabar, anak-anak yang banyak sekaligus shalih-shalihat, hehe.
Jadi begini teman-teman, to the point ajah, ada yang ingin saya sampaikan, betapa dalampun kita pernah jatuh, betapa beratpun ujian yang pernah kita tempuh, jangan lupa tuk selalu hadapkan muka ke depan, karena di sana ada masih ada harapan, masih ada jalan.Chayo!!!!!!!!
In The Name of Allah
Bismillah...
Blog ini dibuat untuk menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, yang lebih nyaman untuk diungkapkan lewat tulisan daripada ucapan verbal, tentang apapun itu, entah sejarah, sastra, asmara, tawa, canda, airmata....
Dan tentang "hidup" utamanya, karena dari dia semua ini bermula. Oleh karena itu langsung saja kami ucapkan selamat membaca. Tabik.
Blog ini dibuat untuk menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, yang lebih nyaman untuk diungkapkan lewat tulisan daripada ucapan verbal, tentang apapun itu, entah sejarah, sastra, asmara, tawa, canda, airmata....
Dan tentang "hidup" utamanya, karena dari dia semua ini bermula. Oleh karena itu langsung saja kami ucapkan selamat membaca. Tabik.
Langganan:
Komentar (Atom)

